Keraton Kaibon Banten, Saksi Bisu Kejayaan Masa Lampau
Beranda » Indonesia Destinations » Keraton Kaibon Banten, Saksi Bisu Kejayaan Masa Lampau
Keraton Kaibon Banten, Saksi Bisu Kejayaan Masa Lampau
Selasa, 25 April 2017 - 03:27:37 WIB | Diposting oleh : Administrator | Kategori: Indonesia Destinations - Dibaca: 284 kali


Keraton Kaibon Banten. Banten memang memiliki kekayaan alam yang menakjubkan. Terkenal dengan berbagai macam obyek wisatanya yang sudah mendunia. Kali ini kami akan coba menampilkan sisi yang lain dari wisata di provinsi ini. Kita akan flash back ke masa lalu tepat nya pada masa kerajaan Islam.

Banten adalah provinsi baru, yang awal nya masuk dalam wilayah Jawa Barat. Lokasi provinsi ini cukup strategis, berbatasan langsung dengan DKI Jakarta dan Jawa Barat. Dulu Sewaktu masih masa kerajaan, di Banten pernah berdiri sebuah kerajaan Islam yang cukup besar. Situs peninggalan kerajaan tersebut sampai sekarang masih bisa kita lihat.

Peninggalan Keraton Kaibon Banten

Di kawasan Banten lama, Kabupaten Serang memang banyak meninggalkan situs yang memiliki nilai sejarah tinggi. Salah satu bangunan yang masih bisa kita lihat adalah Keraton Kaibon yang berada di kampung Kroya, Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen. Cagar budaya ini menyimpan banyak kenangan dan sejarah kejayaan dari Kerajaan Banten Lama.

Keraton Kaibon di bangun pada tahun 1815, dan menjadi keraton kedua di Banten setelah Keraton Surosowan yang memang di jadikan sebagai pusat pemerintahan.Fungsi Keraton Kaibon sendiri sebenarnya sebagai tempat tinggal Ratu Aisyah,  untuk menjaga putranya yang berusia 5 tahun yang di nobatkan sebagai Sultan Banten ke 21.

Keraton Kaibon di desain menghadap ke barat dengan kanal di bagian depan nya. Fungsi dari kanal tersebut sebagai transportasi untuk menuju ke Keraton Surosowan. Pada bagian depan, keraton di batasi dengan gerbang yang punya 5 pintu. Pintu tersebut memiliki arti sholat 5 waktu. Ketinggian gerbang yang bergaya Jawa Bali ini mencapai 2 meter dengan bentuk Candi Betar sebagai coraknya.

Di Gerbang ini terdapat pintu paduraksa yang berfungsi untuk menghubungkan bagian depan dengan ruang utama keraton yang tak lain adalah kamar tidur Ratu Aisyah sendiri. Kamar tidur Ratu di buat menjorok ketanah, serta di lengkapi dengan teknologi pendingin ruangan. Karena ada lubang pada ruangan tersebut yang apabila di isi air bisa memberikan rasa sejuk.

Keraton Kaibon di bangun di lahan seluas 4 hektar, dimana bangunannya dibuat  dari batu bata yang terbuat dari kapur dan pasir. Meskipun bentuk bangunan keraton sudah tidak utuh, tapi pondasi pondasi keraton masih terlihat kokoh.

Salah satu bangunan yang masih terlihat jelas adalah bangunan yang menyerupai mesjid yang berada di sisi kanan gerbang. Dan mimbar sebagai tempat khotib memberikan khotbah.

Pihak Belanda yang di pimpin oleh Gubernur VOC, Jendral Daen Dels, menghancurkan Keraton Kaibon pada tahun 1832. Penyerangan ini di lakukan karena Sultan Syaifudin menolak permintaan VOC untuk meneruskan pembangunan jalan raya Anyer –panarukan.

Pada saat itu Sultan Syaifudin menolak dengan keras permintaan Jenderal Daen Dels, dengan memenggal kepala utusan VOC dan memberikan kepala nya kepada sang jendral,  Dengan artileri yang lebih canggih dan lengkap dalam sekejap Keraton Kaibon berhasil di hancurkan.

Puing reruntuhan dari Keraton Kaibon kini menjadi saksi bisu atas kejayaam Kerajaan Banten Lama. Walaupun hanya tersisa pondasi dan reruntuhan, banyak warga maupun wisatawan yang datang berkunjung untuk sekedar menyaksikan sisa sisa bangunan yang ada. Bahkan banyak juga masyarakat yang berasal dari Jabodetabek berkunjung ke tempat ini hanya untuk berselfie ria, karena memang bangunannya sangat artistik dan klasik.

 

 

 



Berita Lainnya


0 Komentar